Jumat, 20 September 2019

Menikmati Malam di Jakarta, A Never Ending City


Hiruk pikuk Jakarta sudah tak bisa dibantah lagi. Meskipun statusnya sebagai ibukota negara akan berubah setelah Presiden Joko Widodo memutuskan ibukota pindah ke Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur, pesona Jakarta tak akan pudar.

Sebagai Kota Megapolitan, tak salah memang jika banyak pendatang yang menggantungkan harapannya ke kota ini. Mulai dari para pekerja kasar hingga eksekutif muda pun bisa terlihat di berbagai sudutnya. Termasuk para wisatawan dari berbagai daerah, dan juga saya.

Berangkat dari Bandara Adi Sumarmo, Solo, sekitar jam 16.40 WIB, sekitar 1 jam kemudian sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Kamu bisa cek jadwal penerbangan dari harga tiket pesawat Solo Jakarta di sini. Menuju hotel di kawasan Jakarta Pusat dan memakan waktu sekitar 1 jam, proses check-in dan istirahat sebentar, gak ada salahnya untuk langsung jalan-jalan kan?

Menginap di salah satu hotel budget di Jalan Sabang, tentunya punya keuntungan tersendiri. Pusat kuliner di Jakarta Pusat ini punya banyak tempat yang bisa kamu kunjungi. Perjalanan dari Solo ke Jakarta sejak sore hari menuju bandara dan tempat tujuan pasca mendarat tentu bikin perut lapar dan ingin bersantai. Susuri aja Jalan Sabang dan temukan berbagai kuliner serta tempat-tempat seru yang lebih ramai di malam hari.

Iya, Jalan Sabang memang terkenal dengan kuliner malam harinya, loh. Mulai dari nasi goreng, lalapan, sate, Chinese Food bahkan jajanan pun bisa kamu nikmati di sini. Eh jangan lupa mampir buat ngopi juga, karena ada beberapa tempat yang direkomendasikan loh. Bahkan beberapa di antaranya juga sudah direview positif oleh sejumlah pengguna di TripAdvisor, yang jadi rujukan bagi para wisatawan.

Para pedagang makanan dan jajanan yang ada di Jalan Sabang bisa dibilang rata-rata sudah lama dan punya pelanggan sendiri. Tak heran jika sejak petang, kawasan ini penuh dengan orang-orang yang berkumpul dan bersantai sambil menikmati sajian di piring mereka. Mulai dari yang jualan di pinggir jalan hingga yang menempati bangunan sendiri, lengkap dan tinggal pilih.

Saya memilih menyusuri trotoar dan menikmati Sate Jaya Agung yang buka di perempatan jalan. Salah satu legenda sate ini sudah buka dari tahun 1975 dan kualitasnya tetap terjaga hingga sekarang. Menunya dari sate ayam, sate kambing dan juga gulai kambing. Tapi memang mesti sabar, apalagi di jam-jam pulang kantor. Karena dipastikan akan penuh dengan pembeli yang rela antre untuk menikmati seporsi sate lezat ini.

Masih belum kenyang? Masih bisa melipir ke Nasi Goreng Kebon Sirih yang berada di kawasan yang sama. Sewajan besar berisi nasi goreng kambing tanpa rasa prengus bisa kamu nikmati di sini. Dijamin bakal nagih apalagi ketika melihat proses masaknya.

Kalau sudah berasa kenyang tapi masih belum ingin pulang ke hotel, coba aja kelilingin Jalan Sabang sambil nurunin perut yang penuh. Kalau rasa begahnya sudah hilang, boleh deh santai-santai dulu sebentar di Kedai Kopi Oey, yang ternyata milik mendiang pakar kuliner Indonesia yang terkenal dengan kalimat “Maknyusss”, Bondan Winarno. Kedai kopi satu ini punya daya tarik tersendiri dibanding yang lain, karena interior dan eksteriornya yang sangat vintage, pun dari lagu-lagunya.

Menikmati secangkir Kopi Soesoe Indotjina, saya berhasil menutup hari pertama di Jakarta dengan sempurna, sembari memikirkan kejutan apa yang akan ditemui di hari-hari berikutnya, sebelum kembali ke Solo untuk menatap realita pekerjaan yang sudah menanti.

0 komentar:

Posting Komentar